21 Desember 2009

BIJAK SEJENAK


RELAX INSTRUMENTAL


************************************************



Nasib Buruk ?, Nasib Baik ?,  
Siapa Tahu... ? **

Ada cerita dari Tiongkok tentang Seorang Petani tua, yang memiliki seekor kuda tua untuk menggarap ladangnya. Pada suatu hari kuda itu terlepas dari kandang dan lari menghilang di pegunungan, setelah mengetahui peristiwa itu, semua tetangga datang berkunjung untuk menyatakan perasaan kasih sayangnya terhadap Orang tua yang bernasib malang itu, namun si Petani tua menjawab " Nasib buruk ?, Nasib baik ?, Siapa tahu ... ?. "

Seminggu kemudian, kuda itu kembali membawa sekawanan kuda liar dari pegunungan, kali ini para tetangga mengucapkan selamat kepada Petani tua atas nasib untungnya, dan Sang Petani tua itupun menjawabnya " Nasib baik ?, Nasib buruk ?, Siapa tahu ... ?. "

Tak lama berselang, ketika Putra petani tua itu mencoba untuk menjinakkan salah satu dari kawanan kuda liar itu, Ia terjatuh dari punggung kuda dan salah satu kakinya patah. Semua orang merasa kali ini sungguh nasib malang,  namun tidak demikian dengan Sang Petani, tanggapannya hanya " Nasib buruk ?, Nasib baik ?, Siapa tahu ... ?. "

Beberapa minggu setelah peristiwa itu, Tentara Kekaisaran memasuki desa, mereka mendaftar dan membawa semua pemuda berbadan sehat yang dijumpai di desa untuk menjadi prajurit. Dan ketika mereka melihat Anak petani yang patah kaki itu, segera dilepaskan.
Apakah itu Nasib baik ?, Nasib buruk ?, Siapa tahu .......... ?.

** Sumber utama, Buku Sejenak Bijak, karya Anthony de Mello, Penerbit Kanisius.


*****
M

Baik Hati ** 


Seorang pemilik warung kelontong datang menghadap Guru. Dengan nada cemas Ia berkata bahwa di seberang jalan berhadapan dengan warungnya Seorang membuka Supermarket besar yang akan mematikan usahanya. Padahal keluarganya sudah menunggui warung itu seratus tahun, dan kehilangan itu berarti gulung tikar baginya, sebab dibidang lain Ia tak tahu apa - apa.

Kata Sang Guru "Jikalau engkau takut kepada Si Pemilik Supermarket itu, engkau akan membencinya. Dan benci itu berarti gulung tikar bagimu". "Lalu aku mau apa ?", kata pemilik warung bingung. "Setiap pagi keluarlah dari warungmu, dan berdirilah dipinggir jalan memberkati warungmu agar maju sejahtera. Lalu berpalinglah ke Supermarket itu dan memberkatinya juga" wejang Sang Guru. "Apa ?, memberkati saingan yang akan menghancurkan aku ?" jerit Pemilik warung. " Ya, setiap berkat yang kau berikan akan berbalik menjadi kebaikanmu. Setiap puji jahat akan menghancurkan dirimu " lanjut Sang Guru.

Setelah enam bulan berlalu, Si pemilik warung kembali datang mengunjungi Sang Guru, dan melaporkan bahwa Ia harus menutup warungnya seperti yang ia takutkan, akan tetapi Ia sekarang mengurusi Supermarket itu, dan penghasilannya jauh lebih baik daripada sebelumnya.

** Sumber utama, Buku Sejenak Bijak, karya Anthony de Mello, Penerbit Kanisius. 

*****


B a h a g i a **

"Aku butuh sekali bantuanmu, Aku ini jadi gila, Kami hidup dalam satu kamar. Istriku, Anak-anakku, Mertuaku. Syaraf kami tegang, satu sama lain teriak bertengkar, kamar itu jadi Neraka !", keluh Si murid.


"Engkau berjanji melakukan yang Kukatakan ?" tanya Sang Guru berwibawa. "Aku bersumpah, semua akan kulakukan" sambut Si murid. " Baik sekali, Engkau masih memiliki hewan juga ?", lanjut Sang Guru. "Lembu, kambing dan enam ekor ayam" jawab Si murid. "Semua itu masukkan kedalam kamar bersamamu, lalu setelah seminggu kembali kemari !" pinta Sang Guru.


Si murid keheran-heranan, namun Ia telah terlanjur berjanji mau taat !. Maka semua hewannya dimasukkan kekamar. Sesudah satu minggu, Ia kembali, kasihan Ia mengeluh "Syarafku hancur, Kotor !, Bau' ! , Gaduh !. Kami Semua hampir gila !".


"Sekarang kembali, semua hewan dikeluarkan" jawab Sang Guru. Orang itu segera berbalik dan berlari sepanjang jalan. Hari berikutnya Ia kembali, matanya berbinar bahagia, "Nyaman hidup ini, hewan telah keluar, rumah menjadi Firdaus, begitu tenang, bersih dan luas".


** Sumber utama, Buku Sejenak Bijak, karya Anthony de Mello, Penerbit Kanisius



*****
Image : www.aawsat.com

Sulitnya Mengambil 
Keputusan Yang  Tepat **

Konon di sebuah Desa tinggallah seorang Petani tua miskin, satu-satunya harta berharga yang dimiliki hanya tersisa seekor keledai tua pengangkut hasil pertanian, ketika musim paceklik tiba mendera seluruh Desa, Sang Petani bermaksud menjual keledainya untuk membeli beras sebagai bekal kehidupan keluarganya selama musim paceklik.


Pagi harinya Si Petani dan Putranya menyiapkan diri kepasar untuk menjual hasil pertanian dan keledai tua mereka, setelah rampung merekapun berjalanlah menuju pasar dengan menuntun keledai tuanya, dalam perjalanan, mereka berpapasan dengan serombongan orang yang tertawa - tawa sambil mengejek, katanya "Ha... ha... ha... baru kali ini kita menjumpai orang dungu, membawa keledai beban tapi kok tak ditunggangi ?". Si petani terhenyak dan berkata pada putranya "Benar juga, kita membawa keledai beban tapi tak ditunggangi, ayo engkau naiklah !", Iapun membantu anaknya naik kepunggung keledai dan melanjutkan perjalanan.


Tak lama kemudian, mereka kembali berpapasan dengan beberapa orang tua yang dengan nada sinis berkata "Wah, alangkah kurang ajarnya anak muda ini, masakan Dia enak - enakan duduk santai, sedangkan ayahnya yang sudah tua dibiarkan berjalan sendirian". Sang Petani kembali tersentak dan berkata "Baiklah, kalau begitu kamu turun, bapak yang naik". Merekapun bertukar posisi, Si Petani naik, dan Sang anak turun, menuntun keledai kemudian melanjutkan perjalanan.


Baru beberapa saat berjalan, merekapun berpapasan dengan beberapa orang muda yang amat gusar melontarkan kecaman kepada Si Petani "Orang tua yang tak tahu diri, mau menang sendiri, anaknya yang masih muda dibiarkan berjalan sendiri, sungguh terlalu". Kembali Si Petani terhenyak, dan kemudian memerintahkan anaknya naik kepunggung keledai kemudian mereka melanjutkan perjalanan.


Dalam perjalanan, kembali mereka berpapasan dengan beberapa orang yang setengah menggerutu dan berkata "Sungguh terlalu, masakan keledai tua ditunggangi oleh dua orang sekaligus, sungguh tak ada rasa sayang pada hewan peliharaan". Mereka berdua tersentak dan akhirnya turun dari punggung keledai. Sang Petani berfikir sejenak dan kemudian berkata pada putranya "Kita ini serba salah, baiklah kalau begitu, agar keledai ini tetap segar dan laku dijual, mari kita memikulnya sampai dipasar". Merekapun mengikat keledai itu dan memikulnya menuju pasar.


Mendekati pasar, mereka kembali berpapasan dengan beberapa orang pedagang yang menertawai mereka sambil berkata "Ha... ha... ha... bodoh, masak hewan yang mau dijual dipikul, nanti orang mengira hewan tersebut lemah dan sakit, ya pasti takkan laku lah !". Si Petani berfikir bahwa dari tadi mereka telah mengikuti saran orang, tapi hasilnya mereka selalu salah, oleh karena itu Ia mencoba tegar, kali ini tidak akan mendengarkan saran orang, sehingga Ia dan anaknya tetap melanjutkan perjalanan.


Sesampainya dalam pasar, merekapun menggelar dagangannya, akan tetapi hingga akhir tutup pasar, keledai mereka tak jua laku terjual, karena orang mengira keledai itu lemah dan sakit. Sambil menarik nafas panjang, akhirnya Sang Petani dengan galau berkata "Ah... ternyata mengambil keputusan itu tak gampang".




********

** Cerita rakyat Timur Tengah, disarikan dari berbagai sumber.

Tidak ada komentar:

FOLLOWER