26 Desember 2009

THE LONG AND WINDING ROAD **

Sobat !, kesuksesan tidak diraih dengan mudah-semudah membalik telapak tangan, melainkan melalui "jalan panjang nan berliku", sebagaimana kisah mereka dibawah ini :



Kira-kira apa yang akan Kamu lakukan jika idemu ditolak mentah-mentah, dilecehkan - atau bahkan dianggap gila-oleh 217 orang dari 242 yang diajak bicara !. Menyerah ?, atau malah makin bergairah ?. Jika pilihan terakhir ini yang Kamu pilih, Selamat !. Kamu memiliki bakat enterprenership, barangkali suatu saat, sebuah impian membuat bisnis kelas dunia bisa jadi milik Anda.

Yah, itulah kisah nyata yang dialami oleh Howard Schultz, orang yang dianggap paling berjasa dalam membesarkan kedai kopi Starbucks. "Secangkir kopi $. 1,5 ? gila !. Siapa yang mau ?. Ya ampun, apakah Anda kira ini akan berhasil ?, Orang Amrik tak akan pernah mengeluarkan duit $.1.5 untuk secangkir kopi". Itulah sedikit dari sekian banyak cacian yang diterima Howard, saat menelurkan ide untuk mengubah konsep penjualan Starbucks. Starbucks merupakan nama dari sebuah Kedai Kopi kecil yang didirikan di Seattle, Washington pada Tahun 1971 oleh 3 orang yaitu Jerry Baldwin, Zev siegel, dan Gordon Bowker. Pada awalnya Kedai ini hanya menjual biji kopi yang sudah disangrai dan peralatan yang berhubungan dengan pembuatan kopi.

Kisahnya dimulai ketika Howard Schultz (seorang general manager di sebuah perusahaan bernama Hammarplast) datang berkunjung ke Starbucks, Howard amat terkesan dengan sikap pemilik Kedai yang amat getol mempelajari tentang kopi yang berkualitas. Melihat kegairahan mereka tentang kopi, pada Tahun 1982 Howard pun memutuskan bergabung dengan Starbucks yang kala itu baru berjalan 10 tahun. Ia pun segera bisa dekat dengan Jerry Baldwin. Sayang, hal itu kurang berlaku dengan Gordon Bowker dan Steve, Investor Starbucks baru. Meski begitu, Howard tetap berusaha beradaptasi dan mencoba mengenalkan berbagai ide pembaruan untuk membesarkan Starbucks.

Suatu ketika, Howard Schultz datang dengan ide cemerlang. Ia mendesak Jerry untuk mengubah Starbucks agar  tidak hanya menjual biji kopi dan peralatannya saja tapi juga menjadi bar espresso dengan gaya Italia dengan menyajikan minuman kopi itu sendiri. Namun ide itu ditolak dengan alasan bahwa kopi adalah minuman rumahan. Setelah melalui perdebatan dan pertengkaran yang panjang, keduanya menemui jalan buntu. Jerry menolak karena meskipun idenya bagus, Starbucks sedang terjerumus dalam utang sehingga tidak akan mampu membiayai perubahan.


Howard pun lantas keluar dan bertekad mendirikan perusahaan sendiri. Belajar dari Starbucks, ia tidak mau berutang dan memilih berjuang mencari investor. Dan, pilihan inilah yang kemudian membuatnya harus bekerja ekstra keras. Ditolak dan direndahkan menjadi bagian keseharian yang harus dihadapinya. 

Tekad itu terwujud, Howard mendirikan Kedai kopi bernama Il Giornale. Pada tahun 1987 Pemilik Starbucks menawarinya untuk membeli Starbucks, tentu saja Schultz senang dan segera mengambil alih Starbucks serta melebur kedainya Il Giornale dengan Starbucks. Schultz lantas berusaha membuka cabang ditempat lain, namun kerja keras itu tak berhenti dengan terbelinya Starbucks. Saat terjadi akuisisi, ia mendapati banyak karyawan yang curiga dan memandang sinis perubahan yang dibawanya. Tetapi, dengan sistem kekeluargaan, ia merangkul karyawan dan bahkan memberikan opsi saham sehingga sense of belonging karyawan makin tinggi.

Meskipun Starbucks memposisikan dirinya sebagai kedai kopi, tapi Howard mengembangkan ide untuk tidak hanya menyediakan kopi, tetapi juga menyediakan teh serta makanan-makanan yang cocok untuk dimakan sembari minum kopi, hal tersebut membuat Starbucks sangat digemari oleh konsumennya. Di negara asalnya Starbucks sangat digemari karena mayoritas masyarakat di Amerika meminum kopi di pagi hari ataupun di siang hari saat waktu istirahat kantor.  

HOWARD SCHULTZ

Kini, dibantu dengan CEO yang diperbantukannya, Orin C Smith, Howard berhasil mengembangkan Starbucks hingga puluhan ribu cabang di seluruh dunia. Starbucks pertama kali membuka cabang internasional di Tokyo pada tahun 1996, dan sejak saat itu terus membuka cabang dan melakukan joint venture sehingga sekarang outlet yang dimiliki baik secara langsung ataupun dari hasil joint venture dan outlet berlisensi   berjumlah 12.440 di seluruh dunia.  Ia juga menekankan layanan dengan keramahan pada konsumen, dan di sisi lain, memperlakukan karyawan sebagai keluarga. Dengan cara itu, Howard terus berekspansi hingga terus menjadi kedai kopi terbesar.

Howard Schultz adalah gambaran kegigihan seseorang dalam mewujudkan ide. Meski diremehkan pada awalnya, Howard tetap bertahan dan akhirnya membuktikan bahwa dengan tindakan nyata, semua ide bisa menjadi nyata walaupun harus melalui "jalan panjang nan berliku". Kepedulian yang ditunjukkan dengan "memanusiakan" semua karyawannya juga telah membuatnya makin disegani sehingga mampu terus memperbesar usahanya. 

*******





Ayam Goreng KFC merupakan salah satu makanan populer yang dapat dinikmati oleh semua kalangan setiap saat, karena keberadaan KFC sudah tersebar hampir disetiap kota. Namun tahukah Anda bahwa kepopuleran yang diraih KFC tidaklah terjadi hanya dalam sekejab mata, melainkan melalui sebuah jalan panjang nan berliku. 

Adalah Kolonel Harland Sanders, sang Tokoh utama yang  memulai usaha mewaralabakan (franchise) bisnis ayam gorengnya dalam usia 65 Tahun dengan menggunakan uang jaminan sosialnya sebagai modal pertama, guna mewujudkan impian masa kecilnya. Harland Sanders, lahir pada tanggal 9 September 1890, sebagai anak pertama dari 5 bersaudara. Pada umur 6 tahun, Ayahnya meninggal dunia, sehingga Harland muda harus membantu Ibunya menjaga adik sekaligus memasak untuk keluarga, sehingga pada umur 7 tahun Ia sudah pandai memasak. Salah satu keterampilan memasaknya adalah membuat ayam goreng dengan resep menggunakan 11 rempah-rempah.

Pada usia 10 tahun Ia mendapatkan pekerjaan pertamanya didekat pertanian dengan gaji 2 dolar sebulan. Ketika berumur 12 tahun ibunya kembali menikah dan Harland meninggalkan rumah untuk mencari pekerjaan lain di lokasi pertanian di daerah Greenwood.

Selanjutnya Dia berganti-ganti pekerjaan selama beberapa tahun, pertama sebagai Tukang parkir pada usia 15 tahun di New Albany, kemudian pada usia 16 tahun menjadi Tentara yang dikirim selama 6 bulan di Cuba. Setelah itu ia menjadi Petugas Pemadam Kebakaran, Belajar Hukum melalui korespondensi, Praktik dalam pengadilan, Sales Asuransi, Operator Kapal Feri, Penjual Ban, dan Operator Bengkel. 

Pada usia 40 tahun Harland bekerja di Pompa Bensin di Corbin, Kentucky. Saat itu Ia mengisi waktu luangnya dengan memasak ayam goreng kesukaannya yang ternyata disukai oleh pelanggannya. Karena masakannya cukup enak akhirnya semakin banyak orang yang datang ke tempatnya untuk makan, sehingga Harland terpaksa membuka kedai makan kecil diseberang jalan dekat penginapan. Tak lama kemudian keterampilan memasaknya dikenal banyak orang, sampai-sampai Gubernur Kentucky, Ruby Laffoon, menjulukinya Colonel Sanders. 


Sayangnya pada tahun 1950 restorannya terpaksa ditutup karena tergusur pembangunan jalan raya antar Negara bagian yang melewati Corbin, dengan berat hati Harland menutup restorannya dan memilih menjadi Pekerja sosial hingga pensiun. Ketika pertama kali pensiun ia berpikir, tak sebaiknya ongkang-ongkang kaki menikmati pensiunnya. Percaya diri dengan kualitas ayam gorengnya, Kolonel meyakinkan dirinya untuk membuka usaha waralaba yang dimulai tahun 1952. Ia pergi jauh menyeberangi Negara bagian dengan mobil dari satu restoran ke restoran lainnya, Ia menawarkan resepnya ke sejumlah restoran dari satu kota ke kota lain. 

Tak satu pun mau menerimanya. Namun ia tak menyerah meski lebih dari 1000 restoran menolaknya. Akhirnya sebuah restoran mau menerimanya, Ia menggoreng ayam untuk Pemilik Restoran, Pegawai dan Pelanggannya, jika reaksi yang terlihat bagus, ia menawarkan perjanjian untuk mendapatkan pembayaran dari setiap ayam goreng yang laku terjual. Sehingga akhirnya pada tahun 1964, Kolonel Sanders mempunyai lebih dari 600 outlet waralaba untuk ayam gorengnya di seluruh Amerika dan Kanada. Usaha gigih Kolonel Sanders tidak berhenti hanya sampai disini saja, Ia tetap aktif berkeliling memperkenalkan resepnya kesegala penjuru hingga akhirnya leukemia menghentikannya pada tahun 1980 dalam usia 90 Tahun.


Saat ini, lebih dari 1 milyard ayam goreng hasil olahan resep Sang Kolonel dinikmati setiap tahunnya diseluruh dunia termasuk kita di Indonesia. KFC telah menjelma menjadi salah satu raksasa makanan dengan sistim siap saji, dan Kolonel Sanders menjadi simbol dari Spirit Wirausaha.   

*******




Rasa–rasanya tak ada Pemuda yang tak mengenal celana Jeans. Yach !, karena Jeans merupakan celana ”wajib” kaum muda, bahkan saat ini Jeans bukan lagi monopoli kaum muda, melainkan sudah diakrabi oleh semua golongan usia, mulai dari anak–anak hingga kalangan orang tua, semuanya telah ber-Jeans-ria. Tapi tahukah kamu, kalau celana Jeans yang terdiri dari berbagai macam model dan merk, sebenarnya diawali dari sebuah merk klasik LEVI’S. Dan siapa sangka kalau ”Si Biru” yang kini begitu popular, dulunya adalah pakaian para Buruh Tambang, Kaum Gembala sapi atawe Cowboy dan Pekerja kasar lainnya.

Sejarah Jeans dimulai dari Tahun 1872 di Amerika Serikat,  pada saat itu demam emas melanda Amerika. Seorang pemuda dari Bavaria (Jerman), berusia 20 tahun bernama Levi Strauss berniat mengadu nasib ke Amrik. Di tempat asalnya Strauss adalah seorang penjual pakaian, Strauss berangkat ke California dengan hanya berbekal beberapa potong tekstil yang akan dijuanya selama perjalanan ke Amrik.

Karena memang hanya bermodal nekat alias bonek, Levi Strauss akhirnya sampai di California dengan menjual semua barangnya kecuali yang tersisa adalah segulung kanvas. Awalnya Ia membuat tenda terpal dan menawarkannya kepada para Penambang emas, namun malang tak dapat ditolak, tak seorang Penambangpun yang tertarik dengan tendanya, tak berputus-asa Levi muda tetap berusaha sambil bergaul dengan para Penambang. Para Buruh tambang sering mengeluhkan celana kerja mereka yang gampang robek atawa rusak, keluhan ini kemudian memunculkan ide kreatif Levi muda, Levi mencoba membuat sepotong celana dari kanvas miliknya yang tersisa dan menawarkannya kepada seorang Pekerja tambang. Beberapa waktu kemudian beberapa Buruh tambang lain juga minta dibuatkan celana yang sama, karena selain tidak mudah robek juga tahan lama. 


Namun tak lama kemudian, semua Buruh tambang yang memakai celana kanvas Levi rame-rame  mengeluh jika celana kanvasnya kagak nyaman dipakai karena sangat kasar, kaku kayak karung goni. Levi tak lantas malu dan putus asa, tapi justru memutar otaknya untuk mengganti bahan celananya dengan bahan lain. Levi lantas teringat tekstil buatan Genoa (Italy) yang biasa dipakai oleh para pelaut Italy,  Orang Prancis menyebut tekstil ini dengan sebutan olokan “Bleu de Génes” (Orang Amrik mempopulerkannya dengan istilah Blue Jeans), yang berarti Biru Genoa. Hasilnya luar biasa, celana Levi laku keras, bahkan para Buruh tambang menjadi ketagihan dan selalu mencari celana yang mereka sebut dengan istilah   "Those pants of Levi's " (Celana Si Levi – sebutan inilah yang kelak memunculkan merk dagang). 

Menyadari kondisi seperti ini naluri bisnis Levi Strauss bangkit, Ia kemudian menggandeng seorang Pedagang muda yang kebetulan menyukai celana Levi, Jacob Davis sebagai patner. Jacob mengusulkan agar memasang metal rivet (paku kelim) sebagai kancing dan pada ujung-ujung  saku depan agar lebih kuat. Pada Tahun 1873 Levi dan Jacob mematenkan desain mereka dengan merk LEVI'S. Selanjutnya kerja sama itu melahirkan pabrik celana Jeans pertama. Dan produk desain mereka yang pertama adalah "Levi's 501". Dalam waktu singkat celana Blue Jeans lantas menjadi pakaian kebangsaan para Penambang emas, Cowboy, Buruh pabrik dan Pekerja kasar lainnya. Karena populer di kalangan kaum Buruh inilah, Jeans kemudian jadi simbol status Ekonomi n kelas Pekerja kasar. Pada tahun 1890 an, Levi memutuskan mengganti bahan dasar Genes dengan Denim (Denim berasal dari kata d'Nimes, artinya dari Nimes - Kota Nimes - Perancis, menghasilkan bahan katun Denim) dengan pertimbangan walaupun harganya lebih mahal, namun bahan Denim lebih lembut, lebih kuat. Walaupun bahan dasarnya telah berganti bahan Denim, namun Orang tetap menyebutnya sebagai Blue Jeans. Melalui jalan panjang nan berliku, Levi akhirnya telah berhasil men-Jeans-kan dunia, termasuk kita di Indonesia dapat menikmati Jeans saat ini berkat ide Mbah Levi.  

Karena produk desain pertama memang dikhususkan bagi para penambang emas, maka celana ini memiliki 5 saku.  2 di belakang dan 2 di depan, 1 saku kecil, imut-imut dalam saku depan sebelah kanan, dirancang untuk menyimpan butiran-butiran emas yang berukuran kecil. Walau Era terus berganti, dan kini Jeans telah diproduksi dalam berbagai model dan merk serta bukan hanya untuk para penambang, tapi saku imut-imut itu tetap ada, cuma fungsinya bukan lagi sebagai tempat menyimpan butiran emas, melainkan buat naro duit receh.

COWBOY

*******


** Disarikan dari berbagai Sumber.

Tidak ada komentar:

FOLLOWER