21 Februari 2013

HUMANISME



"SAYA PERNAH DATANG 
DAN SANGAT PATUH"

YU YUAN SI MALAIKAT KECIL**


Yu Yuan, adalah gadis kecil yang akrab berkawan dengan penderitaan. Sejak muncul ke dunia hingga berlalu tak pernah mengenal siapa orang-tua kandungnya, sebab ketika masih bayi Ia diangkat oleh seorang pemuda dari hamparan padang rumput Kecamatan Suang Liu, Provinsi  She Cuan, Republik Rakyat China.

Kala itu, tanggal 30 November 1996, Seorang Pemuda miskin (Ayah angkatnya) menemukan bayi mungil tengah menangis kedinginan, dan terdapat selembar kartu yang menyertai si bayi  yang bertuliskan 20 November, pukul 12”. Diduga itu merupakan hari kelahiran Yu Yuan. Pemuda itu merasa kaget dan iba, Ia berpikir bayi ini bisa meninggal setiap saat jika dibiarkan. Akhirnya dengan tulus diambilnyalah bayi itu, meski sadar bahwa berat sekali untuk mengurusnya kelak.

Walaupun Yu Yuan dibesarkan tanpa Ibu, namun sikapnya amat baik kepada semua orang, patuh dan rajin membantu  ayahnya dirumah serta cerdas di sekolah, sehingga banyak orang senang padanya.

Penyakit Tak Terduga.
Karena kondisi ekonomi Ayah angkatnya yang serba kekurangan, Yu Yuan tumbuh kurang gizi sehingga sering sakit-sakitan dan bertubuh lemah, pada suatu hari dibulan Mei 2005, ketika Ia hendak mencuci muka, Yu Yuan kaget melihat air dibaskom menjadi merah oleh darah yang mengucur dari hidungnya. Panik, Ia memanggil Ayahnya yang segera membawanya ke balai pengobatan terdekat. Dokter menyuntiknya, tapi luka suntikan justru ikut mengeluarkan darah segar dan pahanya mulai berbinti-bintik merah, Yu Yuan pun segera dirujuk ke rumah sakit besar.

Dirumah sakit besar antrean sangat panjang, sehingga Yu Yuan harus menunggu lama, sementara hidungnya terus mengeluarkan darah mengotori lantai ruang tunggu rumah sakit, Ayahnya harus meminjam baskom untuk menampung darah putrinya. Tak sampai 10 menit baskom telah penuh darah, melihat itu perawat segera membawa Yu Yuan menjumpai dokter.

Alangkah kagetnya sang Ayah mengetahui putri kecilnya didiagnosa menderita leukemia ganas (kanker darah) yang membutuhkan biaya pengobatan sebesar 300.000 dollar. Demi kesembuhan sang putri Ayahnya berusaha meminjam uang kesemua teman dan kenalan, namun karena belum mencukupi maka Ayahnya menjual semua harta-bendanya, bahkan rumah tinggal mereka, namun dalam waktu singkat tak ada yang berminat.

Melihat mata ayahnya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus karena usaha kerasnya belum membuahkan hasil, Yu Yuan menjadi sedih, Ia menarik tangan ayahnya dan berkata Ayah, aku ingin mati saja”. Hancur hati ayahnya mendengar permintaan putrinya. Nak kamu baru berumur 8 tahun, mengapa bilang begitu ?” tanya ayahnya. Yu Yuan menjawab lirih Saya adalah anak yang dipungut, dan semua orang bilang, nyawa saya tak berharga. Tidaklah sebanding dengan penyakit ini. Biarlah saya keluar saja dari rumah sakit”.

Pada tanggal 18 Juni, Yu Yuan mewakili ayahnya yang buta huruf menanda tangani surat pernyataan pelepasan perawatan. Merekapun kembali ke rumah. Pada hari ke 2, ketika Yu Yuan berjalan-jalan dengan bibinya, Yu Yuan yang biasa hidup sederhana dan tak pernah meminta banyak, kali ini meminta baju baru dan ingin difoto bersama ayahnya. Kelak, setelah saya tak ada, jika ayah merindukan saya, Ayah bisa memandang foto ini ujarnya.

Donasi dari seluruh dunia.
Jikalau bukan karena Chuan Yuan - Wartawan surat kabar Cheng Du Wan Bao, nasib Yu Yuan akan seperti selembar daun yang gugur dari pohon dan lenyap ditiup angin. Chuan Yuan lah yang menulis kisah penderitaan Yu Yuan sekaligus mempelopori penggalangan dana untuk membantu biaya pengobatan Yuan.


Kisah tentang gadis kecil berumur 8 tahun yang mengatur pemakamannya sendiri akhirnya menyebar melalui dunia maya keseluruh kota, negara bahkan ke seluruh dunia. Hanya dalam waktu 10 hari saja, telah terkumpul dana 560.000 dollar dari perkumpulan orang Chinese sedunia, lebih dari cukup untuk membiayai pengobatan, bahkan ketika penutupan penggalangan dana diumumkan, bantuan donasi tetap saja mengalir.

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu maut menjemputnya, akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan yang menyakitkan dengan tegar. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Bahkan ketika pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, saat jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, Yu Yuan tak berteriak dan menangis, bahkan tak meneteskan air mata.

Yu Yuan yang sejak lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu amat tegar, namun pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perempuannya. Air mata Yu Yuan pun tumpah mengalir tak terbendung. Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggilnya Mama. Dokter Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, Anak yang baikSelama dua bulan Yu Yuan menjalani kemoterapi, dalam proses itu Ia sempat mengalami pendarahan hebat, namun berhasil diatasi. Untuk beberapa saat kondisi Yu Yuan stabil dan ada harapan untuk sembuh, namun efek samping obat yang dikonsumsinya membuat tubuhnya yang ringkih menjadi semakin lemah, akibatnya Ia mengalami pendarahan pencernaan.

Surat Wasiat.                   
Setelah melewati operasi pencernaan tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah. Pada tanggal 20 Agustus, Yu Yuan bertanya kepada Fu Yuan, Wartawan yang meliputnya, Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya ? Wartawan tersebut menjawab, Karena mereka semua adalah orang yang baik hati. Yu Yuan kemudia berkata Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati. Wartawan itupun menjawab, Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik”. Yu Yuan kemudian mengambil buku dari bawah bantal tidurnya dan menyerahkannya kepada ke Fu Yuan. Tante ini adalah surat wasiat saya”.        


Saya Pernah Datang Dan Sangat Patuh.
Fu Yuan kaget dan terharu membaca Surat Wasiat tersebut yang berisi curahan hati Yu Yuan kepadanya, serta banyak kalimat yang membuat Fu Yuan tak kuasa menahan airmata  membasahi pipinya, antara lain seperti : 
  1. Saya pernah datang dan sangat patuh;
  2. Permintaan agar Fu Yuan menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua orang yang telah membantu dan memperhatikannya selama ini;
  3. Permintaan kepada beberapa pihak agar memperhatikan Ayahnya, kelak jika Ia telah tiada;
  4. Permintaan kepada Kepala Palang Merah agar menyumbangkan sedikit dana donasi untuk sekolahnya dan menggunakan dana donasi lainnya untuk mengobati pasien sepertinya, agar mereka sembuh; 
  5. Tante Fu Yuan sampai jumpa lagi dalam mimpi.
Pada tanggal 22 Agustus Yu Yuan kembali mengalami pendarahan hebat, Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang berat. Akhirnya pada tanggal 26 Agustus, setelah menjalani perjuangan melelahkan, Yu Yuan pun menghembuskan nafas terakhir dalam damai. 

Pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis, alam seakan ikut menangis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah Papa-Mama Yu Yuan dari berbagai daerah yang tidak dikenalnya, diam-diam datang mengantarkan kepergiannya. Di kecamatan She Chuan, karangan bunga ucapan turut berduka cita ditumpuk setinggi gunung, Email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan Gadis kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah … demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut. 



Pada batu nisannya tertera foto Yu Yuan sedang tersenyum, tertera kata-kata 
Yu Yuan (20 November 1996 – 26 Agustus 2005) 
”Saya Pernah Datang Dan Sangat Patuh”         

Sumbangkan Dana Donasi.
Sesuai amanatnya dana donasi yang tersisa sejumlah 540.000 dollar disalurkan untuk membantu pengobatan anak-anak lainnya, seperti : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian dan Wang Jie. Saya mendapat bantuan dari adik Yu Yuan, Terima kasih Yu Yuan, Kamu pasti sedang melihat kami dari atas sana. Jangan kuatir, kelak di batu nisan saya pun akan terukir kata-kata ”Saya pernah datang dan sangat patuh” ujar Hua Xi lirih.  

*******

** Disarikan dari Majalah KARTINI dan Sumber lainnya.

2 komentar:

Andreas Elva Widiatmoko mengatakan...

ada cerita seru di www.bukuhidupandre.blogspot.com gak nyesel deh kalau udah baca

MAX MAGGIE mengatakan...

Yth Bung Andreas EW
Trims Atas kunjungannya yach.

Salam Blogger.

FOLLOWER